Perayaan Valentine yang marak diadakan dalam beberapa tahun terakhir dikhawatirkan akan memunculkan generasi yang sakit jiwanya. Pada gilirannya kegiatan itu akan mengakibatkan runtuhnya moral keagamaan masyarakat.
Paling tragis, propaganda kaum kapitalis tersebut akan menghasilkan pendapat atau pemikiran diterimanya seks bebas sebagai budaya/kehidupan kaum muda di masa mendatang.
Hal itu dikatakan dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII Yogyakarta Dr Drs Dadan Muttaqien SH MHum di kampus setempat, baru-baru ini. Lebih memprihatinkan lagi, jelasnya melalui Humas UII Yuli Andriansyah SE, dalam decade terakhir media massa cetak dan elektronik secara sadar atau tidak telah ikut mengkampanyekan perayaan itu.
Padahal, acara itu diduga merupakan kerja sama antara gerakan kelompok pemuja libido dan moral kapitalis menggunakan media paganism.
Lebih lanjut, kata Dadan, para penulis di media massa cetak dan elektronik menyampaikannya dengan kalimat-kalimat yang menarik tapi menyesatkan. Bahkan, tambahnya, perbuatan itu bisa cenderung menjadi syirik karena menyekutukan Allah SWT.
Mirip Narkoba
Hal tersebut, katanya, mirip seperti narkoba yang membius para pemirsa dan pembaca. Terutama para remaja yang memasuki usia puber.
Dengan memakai kalimat “kasih-sayang” yang bahasa lainnya diartikan sebagai cinta peringatan tersebut bisa berubah menjadi setan yang akan mencelakakan siapa pun, khususnya kaum remaja.
Lebih lanjut menurut Dadan, peringatan Hari Kasih Sayang sebenarnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala, dan penyimpangan penghormatan kepada para pastor. Acara yang dilakukan tiap tanggal 14 Februari tidak ada kaitannya dengan “kasih saying” dalam arti yang sebenarnya. Tapi lebih kepada kasih saying dengan tujuan mengumbar nafsu. Jadi sebaiknya jangan latah merayakan sesuatu yang sebenarnya hanya merupakan selubung dari hedonism dengan dalih Hari Kasih Sayang.
Sebab, Valentine berasal dari budaya barat. Karena itu, dia mengimbau khususnya kepada kaum remaja muslim untuk selalu mengingat firman Allah yang mengatakan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, karena semuanya akan diminta pertanggungjawabanya”(Al Isra’ : 36).
Paling tragis, propaganda kaum kapitalis tersebut akan menghasilkan pendapat atau pemikiran diterimanya seks bebas sebagai budaya/kehidupan kaum muda di masa mendatang.
Hal itu dikatakan dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII Yogyakarta Dr Drs Dadan Muttaqien SH MHum di kampus setempat, baru-baru ini. Lebih memprihatinkan lagi, jelasnya melalui Humas UII Yuli Andriansyah SE, dalam decade terakhir media massa cetak dan elektronik secara sadar atau tidak telah ikut mengkampanyekan perayaan itu.
Padahal, acara itu diduga merupakan kerja sama antara gerakan kelompok pemuja libido dan moral kapitalis menggunakan media paganism.
Lebih lanjut, kata Dadan, para penulis di media massa cetak dan elektronik menyampaikannya dengan kalimat-kalimat yang menarik tapi menyesatkan. Bahkan, tambahnya, perbuatan itu bisa cenderung menjadi syirik karena menyekutukan Allah SWT.
Mirip Narkoba
Hal tersebut, katanya, mirip seperti narkoba yang membius para pemirsa dan pembaca. Terutama para remaja yang memasuki usia puber.
Dengan memakai kalimat “kasih-sayang” yang bahasa lainnya diartikan sebagai cinta peringatan tersebut bisa berubah menjadi setan yang akan mencelakakan siapa pun, khususnya kaum remaja.
Lebih lanjut menurut Dadan, peringatan Hari Kasih Sayang sebenarnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala, dan penyimpangan penghormatan kepada para pastor. Acara yang dilakukan tiap tanggal 14 Februari tidak ada kaitannya dengan “kasih saying” dalam arti yang sebenarnya. Tapi lebih kepada kasih saying dengan tujuan mengumbar nafsu. Jadi sebaiknya jangan latah merayakan sesuatu yang sebenarnya hanya merupakan selubung dari hedonism dengan dalih Hari Kasih Sayang.
Sebab, Valentine berasal dari budaya barat. Karena itu, dia mengimbau khususnya kepada kaum remaja muslim untuk selalu mengingat firman Allah yang mengatakan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, karena semuanya akan diminta pertanggungjawabanya”(Al Isra’ : 36).
Komentar